A Journey back to Allah

Entries categorized as ‘Ideology’

Gaza Menunjukkan Bahwa Demokrasi Bukanlah Solusi Bagi Kaum Muslim

Januari 17, 2009 · 1 Komentar

HTI-Press. Sejak Israel secara terbuka dan menyolok menghancurkan semua symbol-simbol pemerintahan Hamas di Gaza baik secara militer dan politik, dan secara bersamaan melakukan pembantaian yang tidak pandang bulu atas anak-anak yang tidak berdosa dan kaum perempuan, maka demokrasi di negeri Muslim, menjadi korban yang mencolok yang tidak dikehendaki.

Bagi Israel dan kelompok penggembira-nya di Barat hal ini kecil artinya, bahwa Hamas telah melakukan pemilihan umum yang demokratis untuk mengganti pemerintahan Fatah yang berkuasa di Gaza pada tahun 2006. Hamas dan Fatah kemudian tampil di pemerintahan dan saling berkelahi dengan melakukan pembunuhan dan mengakibatkan kematian di kedua belah pihak, dan akhirnya mempertentangkan kaum Muslim di Palestina.

(lagi…)

Kategori: Ideology · Politik

Wajibnya Ikhlas

Desember 1, 2008 · 1 Komentar

Meninggalkan Sikap Riya

Adapun ikhlas dalam ketaatan adalah meninggalkan sikap riya. Ikhlas termasuk amal hati yang tidak bisa diketahui kecuali oleh seorang hamba dan Tuhannya.

Terkadang urusan ikhlas ini samar dan tercampur baur bagi seorang hamba hingga ia meneliti lebih lanjut dan bertanya-tanya pada dirinya, dan berulang-ulang berpikir kenapa ia melaksanakan ketaatan itu atau kenapa ia melibatkan dirinya dalam ketaatan.

Jika ia menemukan bahwa dirinya melaksanakan ketaatan itu semata-mata karena Allah, maka berarti ia telah menjadi orang yang ikhlas. Jika ia menemukan dirinya ternyata melaksanakan ketaatan karena tujuan duniawi tertentu, maka berarti ia telah menjadi orang yang riya. Nafsiyah (pola sikap) seperti ini membutuhkan penanganan secara serius, yang bisa jadi membutuhkan waktu yang lama.

(lagi…)

Kategori: Ideology · Umum

Tamak

Oktober 11, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Imam Ali ra. pernah berkata, “Ada dua jenis manusia tamak yang tidak akan pernah merasa puas: pemburu ilmu dan pemburu harta.”

Karena ketamakannya, kedua jenis manusia ini selalu ingin dan selalu berusaha untuk terus menambah apa yang telah mereka raih.

Tentu terpuji seorang Muslim yang tamak terhadap ilmu. Muslim seperti ini senantiasa menginginkan derajat yang tinggi di sisi Allah melalui pencariannya terhadap ilmu. Ia sangat sadar akan firman Allah Swt. (yang artinya): Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kalian beberapa derajat (QS al-Mujadilah [58]: 11).

(lagi…)

Kategori: Ideology · Umum

Saling Memberikan Hadiah, Menyuburkan Cinta

Oktober 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

« تَهَادَوْا تَحَابُّوا »

Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai (HR al-Bukhari, al-Baihaqi, Abu Ya’la)


Imam Bukhari mengeluarkan hadis di atas dalam Adab al-Mufrad, bab qabûl al-hadiyah, hadis no. 612. Imam al-Bukhari meriwayatkan hadis ini berturut-turut dari Amru bin Khalid, dari Dhimam bin Ismail, dari Musa bin Wardan, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.

Abu Ya’la mengeluarkan hadis di atas dalam Musnad-nya, yakni hadis no. 6013, berturut-turut dari Suwaid bin Said, dari Dhimam bin Ismail, dari Musa bin Wardan, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.

Adapun al-Baihaqi mengeluarkannya dalam Sunan al-Kubrâ, Syu’ab al-Îmân dan al-Adâb li al-Baihaqi.

Hadis ini juga keluarkan oleh Abu Bisyr Muhammad bin Ahmad ad-Daulabi dalam Al-Kunâ wa al-Asmâ’, Tamam bin Muhammad dalam Al-Fawâ’id Tamam, Ibn al-Muqri’ dalam Al-Mu’jam li Ibn al-Muqri’ dan an-Nasai dalam al-Kunâ.

(lagi…)

Kategori: Ideology · Umum
Ditandai:

Keutamaan Ramadhan

September 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Ramadhan: Bulan Mengendalikan Hawa Nafsu

Biasanya, sering kita mengatakan atau mendengar bahwa shaum berfungsi untuk menundukkan hawa nafsu jelek kita. Namun, yang dimaksud sekadar menahan nafsu makan dan minum, tidak berbohong, tidak bertengkar, tidak meng-gîbah, atau aktivitas lain yang bersifat moralitas semata. Kalaupun faktanya demikian maka sebenarnya telah terjadi penyempitan makna dari menundukkan hawa nafsu itu sendiri. Allah SWT berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى

Tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran dan al-Hadist) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS an-Najm [53]: 3-4).

Dalam ayat di atas, Allah SWT secara tegas menjelaskan bahwa hawa nafsu dan wahyu saling berbeda. Hawa nafsu adalah segala bentuk dorongan yang berasal dari dalam diri manusia. Oleh karena itu, hawa nafsu tidak hanya terbatas pada aspek moralitas saja, melainkan menyangkut seluruh dorongan ada dalam diri manusia yang mewujud dalam seluruh aktivitas. Sebaliknya, wahyu adalah sesuatu yang diwahyukan oleh Allah kepada Rasulullah saw. berupa perintah dan larangan. Wahyu ini yang harus mengendalikan hawa nafsu manusia. Jika hawa nafsu manusia tidak dibimbing wahyu, ia akan cenderung pada keburukan.

(lagi…)

Kategori: Ideology
Ditandai: ,